Jumat, 05 Juni 2009

DEKONSTRUKSI

2.1 Latar Belakang
Dekonstruksi berlandaskan pada semangat konstruktivisme Rusia. Di mana di dalamnya mencoba untuk mengoyak mimpi indah tersebut melalui penampilan bidang-bidang yang simpang siur dan garis-garis yang merentang sehingga keseluruhan struktur seolah-olah akan segera ‘ runtuh ‘. Banyak kritik dilontarkan terhadap usaha Johnson dan Wigley dalam membeberkan paralelisme antara arsitektur dan dekonstruktivisme dengan kontruktivisme Rusia. Alasannya karena mereka hanya mendasarkan pada kemiripan bentuk dan prinsip estetik, tapi sama sekali mengabaikan konteks social, politik, dan ideologis di mana kedua gejala tersebut tumbuh.
Bagi orang tertentu yang menghendaki perubahan dalam cara berpikir dari arsitektur yang ada ( arsitektur modern ) filsafat derrida sangat relevan. Pemikiran tersebut didasarkan pada adanya alasan filsafat tersebut menawarkan pemahaman dan perspektif baru tentang arsitektur. Sehingga proses pemikiran kembali ( rethinking ) premis ( dalil-dalil ) dan kaidah tradisional arsitektur dapat dilakukan.
2.2 Sejarah Dekonstruksi
Lahirnya kira-kira pada musim semi 1977, ketika Peter Eisenman mempublikasikan editorial ‘Post Functionlaism’-nya, dengan nama majalahnya ‘opposition’. Hadir sebagai reaksi terhadap pameran arsitektur rasional dan Ecole des Beaux Arts, pada museum seni modern, Eisenman mengkarakteristikkan kedua pameran tersebut sebagai post modern dan bahkan lebih buruknya mengangkat segi-segi kemanusiaan ( humanism ) dari sebuah bangunan. Padahal sebagaimana diketahui bahwa modernisme sangat anti-humanis. Pada dasarnya hal tersebut merupakan pertanda lahirnya seni abad 19 dan 20 yang mana abstrak, atonal, dan atemporal. Taktiknya adalah dengan membuat segalanya yang typical menjadi ‘tidak‘ atau ‘pemecahan‘ bentuk yang lain.
Menggunakan ide Michael Foucault dari new episteme yang memecahkan humanisme, Eisenman mengedepankan bahwa modern arsitektur menjauhkan manusia dari pusat bumi ini, memperkenalkan ide bahwa sesuatu kepemilikan dan fungsionalisme dapat diubah menjadi atemporal dan mode dekomposisi. Suatu metode desain dengan bentukan yang diyakini berasal dari seri bagian-bagian – tanda tanpa makna. Bila ini terdengar familiar, pastilah karena dekonstruksi telah menjadi salah satu fakultas seni terkemuka di Ivy League, dan sekarang telah menjadi suatu ortodoks / paham.
Ditekankan bahwa mereka bukan diibaratkan sebagai orang Ethuopia yang berharap untuk mengubah lingkungan, melainkan lebih memainkan bentuk modern dengan memasukkan unsure estetika; kesan esensial mereka bukanlah etik namun ber’gaya. Goldbenger mengklaim bahwa bangunan yang dapat dikategorikan neo-modern saat itu adalah Bernard Tschumi- parc de la Villette, karena rancangannya merupakan hasil fantasi tanpa adanya ideologi yang pasti. Pendapat ini bisa benar dan salah ; benar-karena Tschumi membuat bentukan paviliun dengan memainkan bentuk constructivistme yang melayang; salah-karena Mannerisme merupakan salah satu karakteristik dari purna dan post modern arsitektur. Tschumi berkeras bahwa folies yang ada mengilustrasikan teori dari dekonstruksi.
Pada ideologi ini, dihubungkan dengan Eisenman, yang benar-benar memperbarui new modernism dengan bentukannya yang ‘ baru ‘ dalam arsitektur. Anti humanist, decentring, penghilangan manusia dari dunia, menurut Eisenman akan eksis di filosofi modern, akan tetapi dalam arsitektur hal itu tidak terjadi. Cukup beralasan sebab, arsitek hingga sekarang harus menyesuaikan fungsi bangunan mereka dan menyocokkan dengan lingkungan yang ada. Sekarang new modern tidak lagi mempercayai humanism; mereka lebih memilih untuk mengerjakan rancangan mereka sebagai self justifying, yang bermain dengan ide metafisik. Arsitek-arsitek yang mempelopori aliran ini adalah Peter Eisenman, Bernard Tschumi, Daniel Libeskind, Fujii, Frank Gehry, Rem Koolhas, Zaha Hadid, Morphosis/ Thom Mayne dan Hejduk, tapi bukan Foster, Rogers, Hopkins, Maki dan Pei. Merekalah pembentuk dekonstruksi dengan melanjutkan gerakan modern dengan cara mengelaborasi dan menggabungkan bentukan yang kompleks.
2.3 Pengertian Dekonstruksi
Apakah yang dimaksud dengan dekonstruksi itu ? Hampir semua orang memiliki pemahaman yang berbeda-beda sejak konsep ini ada pada tahun 1971 dan telah menjadi focus utama teori literature Amerika dan Perancis. Di luar itu, kita harus mewaspadai central paradox yang mengatakan bahwa dekonstruksi telah menjadi akademik ortodoks dalam beberapa universitas Amerika, kampus seni dan arsitektur, dll.
Dekonstruksi adalah sekolah filsafat di Perancis pada akhir 1960 dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap kritisme di Amerika. Penciptanya adalah Jacques Derrida. Lahir sebagai respon komplek terhadap teori dan pergerakan filosofi abad 20 [First paragraph of a seven-page explanation in the Encyclopedia of Contemporary Literary Theory (Toronto: University of Toronto Press, 1993).]
Sedang dalam arsitektur dekonstruksi adalah suatu pendekatan terhadap perancangan bangunan dengan mencoba melihat arsitektur dari segi bagian dan potongan. Bentuk dasar arsitektur dirombak semua. Bangunannya tidak memiliki unsure logis : bentuknya tidak berhubungan satu sama lain, tidak harmoni, abstrak.
Dekonstruksi adalah post-strukturalism – yang merupakan reaksi pertama terhadap teori dan praktek structural dari Claude Levi Strauss, Noam Chomsky dan semua yang mendapatkan pengertian dan pertentangan dalam struktur. Akan tetapi post structuralism tidak memiliki sifat dekonstruksi di dalamnya sebagaimana dimaksudkan adalah adanya proses dislocation, de-composing, dan de-coding. (Charles Jencks, 1980)
Untuk singkatnya, bila diturutkan dalam dunia dan hubungan etymological dari Nietzche dan Derrida, kita dapat mendengar bahwa kata ‘ de ‘ dan ‘ di ‘ terangkum dalam kata dekonstruksi. Hal ini memusatkan, mengkomposisikan, dan memisahkan keseluruhan struktur menjadi 3 bagian : yakni debunk ( menghilangkan ) ; derides ( mengejek ) ; dan deprecates ( mencela ) semua nilai dan norma yang mana telah ada dalam kehidupan.Definisi dekonstruksi cenderung subjektif bila dilihat bagi tiap-tiap tokohnya. Hal ini tampak jelas, di mana karya-karya arsitekturnya memiliki karakter yang berlainan satu sama lain, tetapi seolah-olah memiliki persamaan pada bentuk ‘ luarnya ‘ yang kacau, abstrak, hanya berupa imajinasi namun kenyataannya dapat dibangun.

2.3 Aliran-aliran dalam Arsitektur Dekonstruksi

1. Fragmentation and Discontinuity

Pecahan dan diskontinu. Aliran ini dianut oleh Frank Gehry – yang mana memecahkan keseluruhan bentukan menjadi berbagai bagian pecahan dan menjajarkan pecahan-pecahan tadi dengan filsafat seni.

2. Neo Constructivist yang dipelopori Rem Koolhas dan OMA

Inversional rotasi dari potongan-potongan besar menjadi dekomposisi perspektif yang distorsinya colourful. Atau pula sebagaimana dapat dilihat pada Parc de La Villette, Tschumi yang mana dapat terlihat permainan sirkulasi, grid, strip, dan confetti. Dalam Neo constructivist, Zaha Hadid juga terkenal dengan flying beam dan cocktail stick, dan proyek lain yang membuat dekonstruksi jadi begitu indah, dislocated – mengutip kata-katanya dan Leonidov – biasa disebut anti gravitational. Neo constructivist ini terkenal optimis dan realistic sehubungan dengan mass culture.

3. Folies, Bernard Tschumi

Persilangan antara late constructivist Chernikov, estetik dari Kandinsky dan dekonstruksi Perancis ( Foucault dan Derrida ). Mereka ini terkenal dan diperhitungkan sebagai titik pergerakan kemajuan constructivist, akan tetapi ide dan bentuk yang sama disintesis dan diambil sebagai titik ekstrim oleh Daniel Libeskind. Ia telah menyerap ‘paham‘ dari beberapa sumber antara lain : fragmentation milik Gehry ; flying beams dan cocktail milik Koolhas ; representasi hermetic milik Eisenman. Kemudian kesemuanya itu dikombinasikan dengan suatu bentuk dan bahasa yang lain, yang mana keduanya sangat bersifat personal dan anti architectural.

4. Positive Nihilism, Peter Eisenman

yang mana menemukan bahwa representasi itu sendiri merupakan tujuan akhir dari arsitektur. Adalah benar adanya bahwa Eisenman telah pasti dengan kehilangan pusat, perbedaan yang tidak dapat dipisahkan dengan modernism, massa yang uprooted, akhir dari identitas etnik – akan tetapi tema ini selalu menomor duakan figure retorisnya dan disublimasi menjadi satu set perubahan : catachresis, arabesque, grotesques atau pada masa lampau disebut : scaling, self similarity, dan transformation. Hampir seluruh bagian arsitekturnya bersifat sangat abstrak (meskipun sekarang beberapa representasi konvensional telah masuk), ia tetap konsisten. Kebanyakan orang sulit untuk memahami karyanya, karena konsep yang ia terapkan sangat sulit dipahami. Satu-satunya cara agar dapat menghargai karya Eisenman adalah dengan membaca dan melihat karyanya, maka akan ditemukan estetika, keindahan dan sedikit pergerakan, namun tetap privat.

2.5 Prinsip Arsitektur Dekonstruksi

Ideologi dekonstruksi antara lain :

  1. Pentingnya perbedaan, ke’terbedaan’ dari yang lain.
  2. Bentuk asemantik.
  3. Memperlihat ke’dekonstruksiannya’ dengan kesan “ tulisan “ yang didapat dari bangunan.
  4. Tiap arsiteknya memiliki hak penuh atas desain bangunannya.
  5. “ Menaklukkan “ suatu kasus perancangan.
  6. Terpecah-pecah, terbagi-bagi (fragmented), tidak jelas bentuknya (destructive).
  7. Arsitek adalah metafisika.

Gaya yang dianut :

  1. Kontradiksi antar elemen bangunan, ada irama.
  2. Kompleksitas disjungsi, kecenderungan kaku ; kacau ; bengkok dan berbeda dari. yang lain.
  3. Ruang eksplosif dengan lantai mirin ( tilted floors ) ; cocktail sticks ; penyimpangan/pembengkokan ( warps ) ; distorsi ; anamorfisme.
  4. Bentuk abstrak yang ekstrim.
  5. Tidak adanya keterikatan antara bentuk dan ruang yang ada di dalamnya.
  6. Estetika nol derajat ( degree zero ), kekosongan erotik mesin ( machine eroticism ).
  7. Ornamen pokoknya : pemecahan / fractal ; skala ; self similiarity ; catachresis ; apocalypse.
  8. Memperlihatkan kode pribadi.
  9. Pro restricted metaphors : planetary arch ; flying beam/ balok melayang ; knife blades ; fish bananas.
  10. Memunculkan kembali sejarah yang ada.
  11. Kehancuran semu.
  12. Simbolik pribadi.

Ide desainnya antara lain :

  1. Non place sprawl ; grid point ; teori chaos/kehancuran.
  2. Fungsi indeterminan.
  3. Ahistorikal dan neo constructivist.
  4. Mengandung banyak kata-kata yang halus ( rhetorically redundant).
  5. Ruang dan massa yang saling berpenetrasi – ‘ chora ‘.
  6. Objek skulptur yang tidak berkesinambungan.
  7. Patahan, ruang yang terjadi karena ‘ ketidaksengajaan ‘.
  8. Dekomposisi, pemusatan ulang.
  9. Ketidakharmonisan, ‘random noise ‘.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar